Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H | Minal Aidin Walfa Idzin Mohon Maaf Lahir & Batin

Selasa, 20 April 2010

Cerpen Karya Nurul Insyirah Junaid

KETIKA KEPOMPONG MENJELMA JADI KUPU-KUPU

……Beranjak dewasa kakak ku rani yang cantik, sudah waktu nya belajar berpijak. Tinggalkan Jakarta demi masa depan cita…(Sheila on 7)….
“Yoona…. Kamu denger mama ga sih?” hardik mama sambil mematikan radio Yoona..
“mama apa-apaan sih? Ganggu aja deh..”
“lupa ya, hari ini kan try out pertama di sekolah…”
Secepat kilat Yoona melompat ke kamar mandi. Cukuplah gosok gigi dan cuci muka, pikirnya.. di depan cermin, rambut sunsilk nya diikat ekor kuda, baju disemprot parfum setengah botol pengganti mandi.
Di sudut jalan Yoona menunggu. Tempat ia biasa janjian dengan Kimbum, sahabatnya. Ya, murni sahabat, tempatnya berbagi rasa, berbagi cerita, mimpi dan cita-cita. Bersama Kimbum tak ada rahasia. Yoona menganggap Kimbum sebagai saudara laki-laki yang tak pernah dimilikinya, meski ia tak tahu bahwa sebenarnya Kimbum menyimpan rasa. Dengan alasan mempertahankan persahabatan, Kimbum memilih bungkam.
Jingga mulai tampak di cakrawala. Yoona dan Kimbum terdiam memandangi laut, pasir putih, dan mentari yang mulai kembali keperaduannya, berganti tugas dengan rembulan, menerangi bumi, memberi cahaya pada makhluk hidup, seolah memberi tahu kita untuk tidak pernah kehilangan harapan. Layaknya pelangi yang selalu muncul setelah hujan, kebahagiaan akan datang setelah kesusahan. Asalkan kita tidak menghabiskan waktu merutuki nasib, menjadi kalah dan terpuruk, tapi bangkit dan berusaha mencari jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi. Begitu yang sering diucapkan Kimbum padanya.
“Yoona, SMA nanti kamu jadi sekolah di Makassar?” Omongan Kimbum membangunkan Yoona dari lamunannya.
“hmm.. iya..kamu?” segelintir perasaan sedih hinggap di hati Yoona. Berat untuknya membicarakan hal ini, karena itu berarti ia harus berpisah dengan Kimbum, karena Kimbum sendiri berencana melanjutkan pendidikannya keluar negeri.
“kemarin aku dapat rekomendasi beasiswa belajar ke Sidney, sekaligus magang jadi wartawan freelance disana”
“wah, bagus itu.. hebat kamu, ga lama lagi aku bakal punya teman jurnalis hebat, yang sering nongol di tivi”
Kimbum hanya melempar senyum sambil lalu. “kamu sendiri bakal jadi dokter bedah handal. Cita-citamu ga berubah kan?”

Yoona menggeleng pasti. Sudah jadi tekadnya, ia ingin meneruskan profesi ayahnya sebagai ahli bedah. Namun, ia berangan melebihi ayahnya. Setelah menamatkan pendidikan S1 nya di Makassar, almamater ayahnya, ia berencana meneruskan pendidikan spesialisasi bedah diluar negeri.
Cita-cita yang tinggi, yang terkadang membuatnya berpikir ulang apakah ia mampu meraihnya. Namun ia terlanjur menggantungkan cita-citanya setinggi langit.
“Jangan mudah putus asa. Kita sudah mulai menentukan arah, tinggal menjalaninya saja. Beberapa kali terjatuh itu pasti, tapi berkali-kali jatuh membuat kita tak merasakan sakit lagi”. Kimbum memang motivator yang baik. Yoona selalu merasa optimis dan siap bertempur setelah mendengar nasihat Kimbum.
“masih tergantung disana kan?” Kimbum menunjuk langit, menunjuk tempat Ia dan Yoona menggantungkan cita-citanya.Yoona mengangguk.
“kita awalnya hanya ulat, kecil, tak berdaya, dan tampak tak berharga. Tapi sekarang kita adalah kepompong, yang diam disarang, mengatur strategi, mempersiapkan diri dengan baik, menghias sayap kita, menjadi paling indah, paling lebar, dan paling tangguh saat tiba saatnya kita pamerkan sebagai kupu-kupu. Kau siap jika saat itu tiba?”
Yoona mengangguk senang. “ya, akan kuperlihatkan sayap kupu-kupu terindah yang belum pernah kau lihat, dan kaupun harus menunjukkan sayap tangguhmu, oke?”
“oke” sahut Kimbum, dan mereka pun menautkan jari kelingking, tanda janji keramat yang harus ditepati.
Saat UAN pun tiba. Yoona mempersiapkan dirinya dengan sungguh-sungguh. Targetnya adalah SMA Unggulan 17 Makassar. Sebagian besar waktu ia gunakan untuk belajar. Waktu bertemu kimbum pun jadi kurang. Jangankan untuk bertemu, saling telepon atau sms-an saja, saat ini jarang mereka lakukan.
Singkat cerita, mereka lulus UAN dengan memuaskan. Jerih payah Yoona dibayar tunai. Ia lulus masuk SMA 17 Makassar, sementara Kimbum berangkat ke Sidney, Australia. Saat berpisah, perasaan mereka campur aduk. Bahagia, bangga akan satu sama lain, dan sedih karena akan berpisah untuk jangka waktu lama, memenuhi takdir yang gariskan untuk mereka berdua.
“ingat, selanjutnya FK Unhas. Selangkah lagi”.
Kimbum memberi semangat pada Yoona. Tapi kali ini Yoona begitu sedih. Ia lupa sejenak pada cita-citanya. Ia terlalu sedih akan berpisah dengan Kimbum, partnernya, sahabatnya, saudaranya. Ia tak pernah menyangka akan sesedih ini berpisah dari Kimbum. Ia tahu akan menyedihkan, tapi tak menyangka akan sesakit ini. Seperti ada sesuatu, semacam batu yang menekan dadamu, melawan paru-parumu mengembang, hingga kau sulit bernapas. Ia pun merasakan pandangannya kabur, dan guliran-guliran hangat berubah deras membanjiri matanya.

“Hei, jangan cengeng begitu” Kimbum mengacak rambutnya. “Saat kau lulus SPMB, aku akan pulang”
“benarkah?” Yoona mulai tersenyum
“hmm..hanya jika kau lulus SPMB” Kimbum mengayunkan jari telunjuknya didepan hidung Yoona.
Awal kepindahan Yoona ke Makassar semuanya terasa berat. Jauh dari orangtua, keharusan untuk lebih mandiri, dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru benar-benar hampir membuatnya jenuh. Apalagi sekolah yang dimasukinya termasuk yang terbaik di Makassar. Mutiara-mutiara terbaik dari hampir semua SMP di Sulawesi berkumpul disini. Aroma persaingan sangat terasa. Andai saja ada Kimbum, mungkin Yoona tidak akan merasa sendiri disini.
Sesekali ia masih berkirim kabar lewat email dengan Kimbum. Awalnya sekali seminggu, lama-lama sebulan sekali, bahkan pada musim ujian, mereka tidak lagi bertukar cerita selama berbulan-bulan. Waktu cepat berlalu, tak terasa memasuki tahun ketiga Yoona di Makassar. Ia semakin sibuk, pelajaran dijejalkan semakin banyak ke kepalanya. Mulai dari pengayaan sepulang sekolah, diskusi-diskusi kelompok, hingga kursus di lembaga bimbingan belajar sebagai persiapan SPMB. Yoona sering merasa jenuh dengan rutinitasnya. Ia seakan ingin berlari, menghindar dari situasi ini, namun tak ada waktu untuk berhenti. Yoona merasa ingin kembali ke masa lalunya bersama Kimbum, dari pada harus memikirkan semua ini. Waktu melaju semakin cepat dan tiada ampun. Sekali berhenti, kita akan tertinggal. Hampir setahun ia tak mendengar kabar Kimbum, namun janji Kimbum untuk pulang ke Indonesia adalah motivasi tersendiri buat Yoona.
Semalaman Yoona tak bisa tidur. Dua bulan yang lalu ia telah mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk SPMB, namun tak begitu yakin dengan hasilnya. Soal-soalnya sangat sulit, ia harus mengerahkan semua pengetahuannya selama bersekolah. Belum lagi untuk lulus kedokteran memerlukan passing grade yang tinggi dan saingan yang tak hanya dari pulau Sulawesi, tapi dari seluruh Indonesia. Dan besok adalah hari penentuan arah masa depannya.
Ia menerima koran itu dengan perasaan ketar ketir. Koran yang tak lebih setengah kilogram itu terasa bagai lima puluh kilogram ditangannya. Perlahan Koran mulai dibuka, tangannya gemetar tak keruan, jantungnya bertalu-talu, peluh bercucuran dikeningnya. Saat Koran terhampar, ia menutup mata, menahan napas, dan mengintip perlahan. Matanya mencari-cari. No.urut 1112 MIN YOONA Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Ia membelalakkan mata, membaca berulang-ulang, takut salah membaca nama. Begitu yakin yang dimaksud adalah dirinya, ia terpekik senang, berkali-kali mengucap syukur dan langsung menelpon orangtuanya . Tak sabar ia menyampaikan berita gembira ini pada Kimbum.

Yoona menghabiskan waktu berdandan dikamar, berkali-kali mencoba baju yang dianggap pantas. Ia membayangkan saat membaca ulang email Kimbum yang menyatakan sangat bangga dan bahagia akan kelulusannya. Selangkah lagi, dan itu nyata, kata Kimbum, Dr.dr. Min Yoona, Sp.B,Sp.BO,FISCH. Entah dari mana Kimbum sampe kepikiran seperti itu. Tapi itu masih jauh pikir yoona. Yang ia tahu saat itu Kimbum berjanji akan pulang, dan hari ini ia akan tiba di Indonesia.
Yoona senyum-senyum sendiri membayangkan akan seperti apa Kimbum sekarang. Tiga tahun lebih tak jumpa, tentunya ia tambah tinggi.Iklim disana bagus, apakah Kimbum akan semakin tampan?Dan tanpa disadarinya, jantungnya berdegup kencang. Ia menyadari sesuatu, sesuatu yang dari dulu sangat takut diakuinya. Ia jatuh cinta pada Kimbum. Ia tak peduli lagi, tak mengapa jika nanti Kimbum mengetahuinya. Ia merasa Kimbum juga merasakan hal yang sama.
Pesawat Kimbum akan transit di Jakarta pukul 13.00WIB, dan selanjutnya bertolak ke Bandara Udara Hasanuddin, tempat Yoona menantinya. Ia tak ingin terlambat. Dibawah guyuran hujan yang deras, Yoona berkendara sendiri, menembus jalan yang berkabut, Guntur yang beberapa kali menggelegar memekakkan telinga. Dibunyikannya radio untuk mengusir sepi.
“Pemirsa, dilaporkan pesawat Boeing 737 Pemberangkatan Jakarta-Makassar jatuh dipegunungan akibat cuaca buruk. Diduga tidak ada yang selamat dalam kecelakaan naas itu. Pesawat kehilangan navigasi dan akhirnya jatuh menabrak gunung sebelum akhirnya meledak. Pihak berwajib sedang mengirimkan tim evakuasi dan berusaha mencari kotak hitam pesawat”.
Yoona mengerem mendadak. Ia terpaku, seakan kehilangan kesadaran, ia ingin menyangkal berita itu. Dan saat menemukan kembali suaranya, ia berteriak…………………………
Hujan masih terus mengguyur. Seminggu setelah berita kecelakaan pesawat itu, Kimbum dipastikan sebagai salah satu korbannya. Yoona seakan kehilangan dunianya. Ia merasa pincang, separuh jiwanya hilang. Bahkan diatas tanah makam yang masih merah ini, Yoona tak ingin mengakui bahwa nisan yang betuliskan namanya, tubuh kaku yang berbaring dibawahnya, adalah Kimbum yang dikenalnya. Kimbum… sahabatnya, kakaknya, gurunya, cintanya……
Yoona marah. Marah pada kimbum, marah pada dunia, marah pada semua omong kosong tentang mimpi yang disenandungkan Kimbum untuknya. Untuk apa semua itu jika tanpa Kimbum? Kimbum bahkan belum tau Yoona mencintainya. Kertas itu diremasnya. Surat yang dititipkan Kimbum untuknya. Dengan pandangan basah, dibacanya surat itu…



Dear Yoona
The most beautiful butterfly ever
Ingatlah, setiap akhir guyuran hujan akan muncul pelangi. Jangan pernah kehilangan harapan. Teruslah melangkah. Gantungkan cita-citamu setinggi langit dan jangan lupa mengambilnya kelak. Menjadi bagian darimu adalah kehormatan yang sangat besar untukku. Maafkan aku karena tak pernah mengungkapkannya… aku menyayangimu…..
Kalau boleh aku mengucapkan setiap harinya, aku ingin katakan cinta kepadamu ….. kalau boleh aku mengucapkan setiap harinya, aku di setiap pagiku ….. ada kamu disampingku
Keringkan airmatamu dan buat semua orang bangga. Aku akan tetap melihat dari jauh pesona sayapmu saat kau siap mengepakkannya. Berjanjilah….. kimbum.
Yoona menangis sejadi-jadinya lalu mengeringkan airmatanya. Ia sudah basah oleh hujan, dan siap menyongsong pelangi, siap menyongsong masa depan yang terhampar didepannya. Bersama kimbum, dalam hatinya, ia tak akan kehilangan harapan. Langit pun menjadi cerah kembali, Yoona pun memandang awan dan ia membayangkan wajah Kimbum tersenyum padanya. Dalam hatinya Yoona berkata “ Tentang cinta yang dalam, ada kala aku merasa seperti awan, yang lembut dan tak berdaya ….. namun aku sadar aku bukan awan itu, aku hanya sebuah rangkaian yang menatap awan itu, kisah cintaku adalah pelembut awan ini dan kukatakan aku cinta padamu Kimbum. Aku berjanji suatu saat nanti akan kuperlihatkan pesona sayapku yang indah padamu, tapi di masa yang lain.”
..... Jauh kau pergi meninggalkan diriku, disini aku merindukan dirimu. Kini ku coba mencari penggantimu, namun tak lagi kan seperti dirimu oh kekasih …. ( Caramel )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar